Header Ads Widget



Hijrah ke Madinah - Oleh: Ustaz Drs. H. Ameer Hamzah, M.Si

 

Ustaz Drs. H. Ameer Hamzah, M.Si 


Ringkasan Ceramah Subuh di MRB Banda Aceh, Kamis, 1 Agustus 2024 tentang Sejarah dan Kebudayaan Islam disampaikan oleh Ustaz Drs. H. Ameer Hamzah, M.Si dengan topik Hijrah ke Madinah/Yatrib. Ringkasannya sebagai berikut:


Pertama, pembukaan dengan salam, pujian, dan syukur kepada Allah, serta selawat dan salam kepada Rasulullah, keluarganya, dan sahabatnya sekalian.


Kedua, hijrah dilakukan bukan di awal Muharram sebagai awal tahun hijriah, tetapi Rasul hijrah pada 27 Safar. Ketetapan tahun hijriah dimulai dari bulan Muharram.


Ketiga, setelah Rasulullah hijrah ke Madinah, ada yang mengikuti Rasulullah ke sana.


Keempat, seorang Romawi merantau ke Mekkah, berusaha di sana, menjadi kaya raya, memeluk Islam, dan ingin hijrah ke Madinah. Semua hartanya dirampas oleh kaum kafir dengan alasan bahwa harta tersebut didapat di Mekkah sehingga tidak boleh dibawa ke tempat lain. Di Madinah, dia bertemu Rasul yang menyuruhnya sabar karena Allah akan menggantinya dengan yang lebih banyak.


Kelima, adik perempuan Abu Jahal masuk Islam dan hijrah ke Madinah, tetapi tidak disetujui oleh abangnya. Dia disusul, diikat, dan dibawa pulang ke Mekkah, disiksa, dan dikurung di kamar. Rasulullah kemudian memerintahkan Khalid bin Walid untuk membebaskannya, dan dia dibawa kembali ke Madinah.


Keenam, Hendon yang akhirnya masuk Islam dan hijrah ke Madinah memiliki 6 anak. Suaminya, seorang sahabat Rasul, meninggal. Dia mengadu kepada Rasulullah, yang mengatakan bahwa dia akan mendapatkan yang lebih baik. Hendon dilamar oleh Abu Bakar dan Umar tetapi menolak, dan akhirnya dilamar oleh Rasulullah, sehingga menjadi istri Rasulullah.


Ketujuh, dari sejarah, banyak orang Romawi atau Rum yang memeluk Islam, sehingga keturunan mereka sampai ke Aceh untuk menyebarkan agama Islam.


Kedelapan, salah seorang keturunan Romawi, murid Syiah Kuala, adalah Daud Rumi atau sering dipanggil Baba Daud Rumi oleh kebanyakan orang Melayu/Malaysia.


Kesembilan, Daud Rumi adalah pengarang kitab "Masa'ilal Muhtadin" yang sangat dikenal di Aceh, Malaya, dan Thailand Selatan.


Kesepuluh, di Aceh, anak-anak setelah menamatkan ngaji di Juz Amna atau Quran kecil, dilanjutkan ke Quran besar. Setelah tamat membaca, dilanjutkan ngajinya ke kitab-kitab yang berbahasa Melayu. Dimulai dengan kitab kecil "Masa'ilal Muhtadin." Kitab ini dalam bahasa Melayu dan sangat sederhana. Misalnya, soal jika ditanya orang tentang rukun Islam, jawabannya adalah rukun Islam ada lima perkara.


Kesebelas, setelah tamat, biasanya dilanjutkan dengan kitab "Bidayatul Ghulam" dan lainnya seperti "Yawakit" dan lainnya. (DA/SMH)